Saturday, September 23, 2017

Goa Batu Kapal, Sensasi Menyelinap di Ngalau Warna Warni



Goa Batu Kapal mendadak tenar dan ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar Kabupaten Solok Selatan. Keberadaannya menarik perhatian para pelancong, karena rasa penasaran dan menyimpan pesona alam yang menakjubkan. Kabarnya juga berselimut misteri yang menarik untuk ditelusuri. Benarkah?

Perjalanan saya saat berkeliling Kabupaten Solok Selatan telah mengantarkan saya untuk menjelajahi Goa Batu Kapal ini yang terletak di Jorong Ngalau Indah, Nagari Sungai Kunyit Barat, Kecamatan Sangir Balai Janggo.

Keberadaannya tidak jauh dari pemukiman dan memiliki akses jalan yang tidak terlalu sulit, memberikan nilai tersendiri pada Goa Batu Kapal ini. Bicara akses jalan sudah ada jalurnya hingga tempat parkir menuju lokasi. Namun, beberapa titik ada berlobang dan belum diaspal. Dari ibu kota kabupaten, Padang Aro, memakan waktu sekitar 30-45 menit tergantung kendaraan yang digunakan.

Menyerupai Bentuk Kapal dan Cerita Kutukan


Siang itu, langit di Kabupaten Solok Selatan cukup cerah dengan latar warna biru yang bersih dan barisan awan putih berjajaran di atas goa ini. Sesampainya di tempat parkir, kami membayar tiket masuk dulu dengan harga Rp. 3 ribu per pengunjung. Dari sini sudah terlihat ada bongkahan batu besar. Ini merupakan perbukitan batu dan di dalamnya memiliki lorong dan ruangan-ruangan yang besar.

Topografi Kabupaten Solok Selatan itu dikelilingi oleh perbukitan dan berada dekat dengan Gunung Kerinci sehingga berpotensi memiliki banyak goa dan air terjun. Goa Batu Kapal ini salah satu yang unik dan megah di antara goa lainnya yang dimiliki oleh kabupaten yang baru dimekarkan ini.



Kami berjalan melewati hamparan perkebunan sawit yang masih muda hingga sampai ke mulut goa. Dari parkir kendaraan sampai mulut goa hanya tidak sampai 10 menit. Sebelum masuk, ternyata masih menunggu rombongan dari pemerintahan setempat yaitu Bapak Epli Rachmat (Asisten II Bupati), Bapak Basrial Kepala Dinsos Solok Selatan dan Bapak Yanuari Wali Nagari Sungai Kunyit Barat dan jajarannya.

Rombongan kami, saya bersama teman-teman Blogger Palanta yaitu Bang Emen, Dedet, Bang Bara, Bang Oji, Titi dan Nanda ditambah Anum Duta Wisata Solok Selatan 2016. Kemudian Uda Nofris dan Bang Firza yang menjadi 'kepala arak'dalam penjelajahan kali ini.


Dari namanya saja sudah membuat penasaran, apalagi setelah mengetahuin sejarah dan isi dalam goanya. Memang penamaan goa ini lantaran menyerupai bentuk dalam kapal yang ada ruangan-ruangan bertingkat dan luas. Itu jika dilihat dari dalam goa.

Ada cerita yang beredar di tengah masyarakat, dulunya bukit ini tercipta dari sebuah kapal terdampar dan kemudian karam. Lambat laun karena proses alam berubah menjadi batu seperti yang terlihat saat. Ada juga yang menceritakan bila kapal ini dikutuk dan berubah menjadi batu.  

Kisah yang menarik lainnya, kabarnya goa ini pernah menjadi kandang kerbau, tapi tidak ada yang pernah tahu kebenaran hal ini. Bila ditelusuri pun tidak ada jejaknya seperti tapak kaki dan kotoran kerbau yang biasanya berserakan di mana-mana. Namanya juga mitos yang berkembang, boleh percaya dan tidak. Namun, itulah keunikan dari Goa Batu Kapal ini.

Secara ilmiah, dari kajian mahasiswa jurusan Geologi UGM yang KKN di Kabupaten Solok Selatan menyebutkan berdasarkan studi literatur secara umum Goa Batu Kapal berumur sekitar 22-33,9 juta tahun yang lalu. Goa Batu Kapal dahulunya adalah laut dangkal, sedangkan batuannya berjenis batu gamping yang dihasilkan dari akumulasi organisme mikrofosil (diberitakan radiotemansejati.com).

Cerita Yanuari (52) Wali Nagari Sungai Kunyit Barat, awal mulanya goa ini ditemukan ketika pembukaan lahan perkebunan karet oleh PTPN VIII​ ditahun 1984. Kala itu lahan ini digarap oleh masyarakat dari provinsi Jambi yang transmigrasi ke daerah ini. Goa ini menjadi destinasi wisata lokal bagi masyarakat setempat, tapi tidak bertahan lama kemudian ditinggal begitu saja.

Seiring berjalannya waktu dan melihat potensinya, maka sejak 8 April 2017 lalu masyarakat setempat pun sepakat untuk membuka kembali goa ini menjadi objek wisata yang dikelola oleh Pokdarwis Insan Peduli Goa Kapal. 

Menyelami Isi Goa Batu Kapal dan Terpesona dengan Keindahannya


Di kawasan goa ini, tidak hanya ada satu bukit yang memiliki goa, tapi ada empat bukit dengan keunikan dan karakteristik tersendiri. Goa Batu Kapal atau Ngalau Janggo ini dikenal untuk goa yang berada di bukit kedua dengan ketinggian mencapai 68 meter.

Goa di bukit pertama berdekatan dengan Goa Batu Kapal yang memiliki ketinggian 20 meter. Goa di bukit ketiga dikenal dengan Ngalau Lipek, karena bebeatuan yang ada di bukitnya berlipat-lipat. Goa di bukit pertama dan keempat ini belum bisa dikunjungi oleh para wisatawan. Untuk goa yang dibuka sebagai objek wisatanya baru goa di bukit kedua dan ketiga yang bisa dijelajahi pengunjung.



Sebelum masuk ke dalam goa, saya melihat-lihat dulu isi goa dari depan bersma Titi dan Bang Bara. Kemudan perlahan masuk ke dalam. Terlihat lebih jelas isi dala goa yang luas dan memiliki ruang yang besar. Bau menyengat dari kotoran kelelawar dan suasana yang lembab menjadi hal yang lumrah dijumpai. Goa memang menjadi habitatnya kelelawar dan sejumlah reptil dan serangga lainya. Tentunya harus berhati-hati.

“Dari mana dek?” tanya seorang bapak-bapak pada saya ketika berada dimulut goa.

Saya pun menjelaskan kedatangan kami ke tempat ini. Kemudian dia mengajak kami bertiga masuk ke dalam goa dan menujukan beberapat titik di dinding goa yang dapat dipotret dan ternyata menghasilkan perpaduan warna yang cantik. Secara kasat mata hanya terlihat gelap saja, tapi bila dipotret semua sudut di goa ini memunculkan warna yang beragam.


Kami bertiga mencuri start dulu menjelajahi goa ini. Bapak ini merupakan salah satu pemandu wisata goanya. Dia selalu mengingatkan agar berhati-hati dalam melangkah agar tidak terpeleset, karena ditempat ini tanahnya lunak dan berlumut.

Goa ini tidak begitu gelap, karena beberapa sudutnya terdapat ruang terbuka dan sinar matahari dapat masuk. Sepertinya hal ini yang menyebabkan bila dipotret ruangan dan sudut-sudut dalam goa ini menjad lebih berwarna, disamping oleh kandungan dari bebatuan dan lumut yang ada didinding goa. Dalam sekali petik bisa saja muncul warna merah, pink, hijau, kuning, keemasan, orange, coklat dan lainnya.



Saat melihat-lihat ruangan ini, saya tertuju pada satu titik yang ada cahaya matahari masuk dari atas goa ini. Kemudian turun menyinari hingga dasar goa ini. Cahaya yang membias ini, menciptakan kesan yang menakjubkan. Saya pun memanggil Titi dan Bang Bara untuk ikut mendokumentasikan spot ini. Kami pun silih bergantian berfoto. 

Untuk mendapatkan moment ini harus datang tepat tengah hari dan dalam cuaca yang cerah. Setelah sinar mentarinya menghilang, kami pun keluar goa dan berjumpa dengan rombongan lainnya.



Semuanya sudah berkumpul dan saatnya mulai penjelajahan sesungguhnya. Sebelum masuk ke dalam goa, pengunjung akan mendapatkan pengarahan dan berdoa terlebih dahulu untuk menjaga keselamatan. Ternyata rute perjalanannya bukan spot yang sudah saya telusuri pertama tadi. 

Kami menaiki beberapa bebatuan, masuk ke lorong yang ukurannya lebih kecil, hingga tiba di ruangan goa yang cukup besar dan keluar goa menyusuri tepian bukit dengan bebatuan yang cukup tajam. Harus berhati-hati.


Di spot ini rombongan berhenti sejenak, karena ada bentuk dari di dinding goa yang menyerupai jantung. Selanjutnya melewati hutan mini dengan pepohonan yang tinggi dan cukup rapat. Melintasi jembatan kayu yang di bawahnya ada aliran air seperti rawa-rawa. Hingga tiba di ruangan goa yang sangat luas dengan ornamen khasnya yang terlihat. Ada stalagmit dan stalaktitnya. Meski tidak banyak, menandakan tempat ini terdapat zat kapurnya. 

Rombongan pun istirahat sejenak di sini. ada yang berfoto ada juga yang melihat-lihat dan berimajiasi akan suasana yang ada di dalam goa ini. Saya melihat ornamen di dalam goa ini terkesan memiliki cerita tersendiri. Masih terjaga dan alami sekali.

Ada yang berbentuk menyerupai bundo kandung, bentuk orang sedang salat, terlihat di dinding goa menyerupai bentuk aline hingga ada motif batik. Uniknya ada juga goa yang memiliki ruangan yang luas setara dengan aula kapasitas 500 orang dan batu yang bisa mengeluarkan musik Talempong.



Berpetualang menyusuri goa memang memberikan pengalaman yang mengesankan. Pengunjung dapat merasakan sensasi berada di dalam perut bumi, dengan ornamen goa yang indah serta kondisi udara yang dingin, minim cahaya hingga terbatasnya kadar oksigen yang dapat dihirup menjadi tantangan tersendiri. Cocok bagi pencinta wisata petualangan.


Hal-Hal yang perlu diperhatikan bila ke Goa Batu Kapal:
1. Menggunakan pakaian yang santai dan nyaman, karena menjelajah goa itu wisata petualangan bukan untuk berwisata keluarga yang bermanja-manaja.
2. Menggunakan sepatu atau minimal sendal gunung, karena akan melewati jalan dengan tanah yang lunak, lembab dan berlumut sehingga akan licin. Terdapat beberapa titik dengan bebatuan yang tajam untuk mengurangi resiko cidera.
3. Membawa senter atau handphone yang ada lampu senternya, karena masuk ke dalam goa akan minim pencahayaan untuk membantu penerangan jalan.
4. Memanfaatkan jasa pemandu ketika menjelajah tiap bagian goa, karena bila tidak tahu jalan akan tersesat.
5.  Membawa air mineral.
6. Tidak boleh melakukan aksi vandalisme pada dinding goa yang dapat merusak keindahan goa.
7. Tidak boleh membuang sampah sembarangan, demi menjaga keaslian lingkungan sekitar goa.
8. Tidak boleh berteriak dalam goa, karena dapat mengganggu kelelawar yang sedang berisitrahat.

***

Goa Batu Kapal ini termasuk goa yang mudah untuk dijelajahi. Karena rutenya tidak sulit, suplay oksigen yang banyak, karena banyak ruang tebuka, dan dapat dilalui oleh semua usia yang dalam kondisi fisik yang sehat. Untuk itu, Goa Batu Kapal ini wajib menjadi daftar kunjungan bila berwisata ke Kabupaten Solok Selatan.

Goa Batu Kapal seakan menjadi destinasi wisata baru, kepopulerannya tidak kalah dengan Kawasan Saribu Rumah Gadang yang menjadi objek wisata primadona di Kabupaten Solok Selatan.
————————————————————————————————————————————————————
©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

11 comments:

  1. Wah seru sekalian kumpul dengan blogger2 sumbar yg kece-kece hehe.
    Goanya juga menarik, relatif masih terjaga. Semoga tetap seperti itu, dan tak ada tangan2 jail merusaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuk jalan2 ke sumbar mas hehehe
      ini goanya baru dijual lagi ke masyarakat umum. Dulu sempat hits dan jadi destinasi lokal era80an.

      Delete
  2. Gak nyangka ada goa kaya gini di Padang, saya kira hanya di Pacitan.
    Included on my list! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehhe ia bro dan masih banyak lagi destinasi yang menarik lainnya di sumbar ini. Cuma belom terekspos aja hehehe

      oke bro ditunggu kedatagannya ke Sumbar

      Delete
  3. Lihat cahay ROL-nya mirip dengan foto di gua jomblang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia sekilas sih gitu mas. Dapat rol ini momen2an juga. Soalnya byk yg gk tau tempatnya hehehe

      Delete
  4. Ajak kesana dong haha..

    -Traveler Paruh Waktu-

    ReplyDelete
  5. wahhh guanya keren sekali yaa..
    biasanya kalau masuk gua begini saya suka berlama-lama didalamnya.. sibuk foto2 soalnya. hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia mbak. Goanya mempesona sekali rugi kalo Ke Solok selatan tidak main ke tempat ini hehehe

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...